Universitas Papua (selanjutnya disebut UNIPA) didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 153 tahun 2000, tanggal 3 November 2000. UNIPA merupakan pengembangan dari Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih. UNIPA diresmikan pada hari Sabtu, tanggal 28 Juli 2001 oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi atas nama Menteri Pendidikan Nasional. Perkembangan UNIPA melalui tiga periode, yaitu periode FPPK UNCEN (1964-1982), periode FAPERTA UNCEN (1982-2000), dan periode UNIPA (2000-sekarang).
Kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang diimplementasikan di Universitas Papua merupakan bentuk pelaksanaan dari Rencana Induk Penelitian dan Rencana Induk Pengabdian kepada Masyarakat.
Kehidupan di dalam dan di sekitar kampus membawa pengalaman baru yang berbeda bagi setiap mahasiswa. Dengan lokasi kampus yang berada di 4 kabupaten yang berbeda, mahasiswa akan terbawa untuk mengembangkan wawasan yang ke depannya akan bermanfaat bagi Papua.
AKPT 2026: Penguatan Kepemimpinan Strategis dan Transformasi Perguruan Tinggi Berdampak
Oleh:
Yogyakarta, UNIPA News (22/9/26). Rektor Universitas Papua, Prof. Dr. Hugo Warami, M.Hum., sebagai Peserta Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi Indonesia (AKPTI) Angkatan I Tahap II berkesempatan melanjutkan pendidikan di Balai Senat Universitas Gajah Mada pada Rabu-Kami, 22-23 September 2026. Pertemuan AKPTI di Universitas Gajah Mada tersebut mempertemukan para rektor dan calon pemimpin perguruan tinggi dari berbagai institusi diIndonesia untuk memperkuat Kepemimpinan Strategis dan Transformasi PerguruanTinggi Berdampai di institusi masing-masing.
AKPT angkatan pertama melibatkan 34 pimpinan perguruan tinggi dari 40 perguruan tinggi serta 70 calon pemimpin masa depan dari 35 perguruan tinggi. Program ini memfokuskan pada penguatan kapasitas kepemimpinan akademik, perencanaan strategis, eksekusi transformasi organisasi, serta manajemen perubahan guna menjawab kompleksitas tantangan global dan nasional.
Menurut Rektor UNIPA bahwa “Mengembangkan kapasitas,kompetensi tata kelola, dan artikulasi strategi organisasi bagi para pemimpin serta calon pemimpin Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia diharapkan agar mampu menghadapi transformasi institusi dan memberikan dampak nyata bagi peradaban. Salah satu perhatian penting dalam AKPT adalah bagaimana perguruan tinggi mampu mengembangkan dan mengelola sumber daya strategis secara berkelanjutan. Sumberdaya tersebut tidak hanya mencakup pendanaan, tetapi juga sumber daya manusia,teknologi, riset dan inovasi, kemitraan, jejaring industri, alumni, serta asetinstitusi yang dapat dioptimalkan untuk memperkuat keberlanjutan dan dampakperguruan tinggi.
Melalui AKPT Angkatan I TahapII 2026, semakin banyak ruang kolaborasi dapat terbangun di antara parapemimpin perguruan tinggi Indonesia. Bukan hanya untuk memperkuat institusi masing-masing, tetapi juga untuk bersama-sama membangun ekosistem pendidikan tinggi yang semakin adaptif, berdaya saing global, dan memberikan dampak nyatabagi bangsa.
“Kita mungkin berasal dari perguruan tinggi yang berbeda, tetapi kita memiliki tujuan yang sama. Mari saling memperkuat dan bersama-sama membangun pendidikan tinggi Indonesia untuk masa depan Nusantara yang lebih maju”.
Rektor UNIPA mengutip pernyataan Wakil Mendiktisaintek RIbahwa:“setiap perguruan tinggi perlu memastikan ilmu dan pengetahuan yang dikembangkan tetap memiliki hubungan dengan persoalan masyarakat. Sebab, kampus memiliki tanggung jawab untuk mendidik manusia, mengembangkan ilmu, menjaga kebenaran, serta ikut menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat. Janganbiarkan ilmu terputus dari masyarakat. Jangan biarkan kampus hanya sibukmembangun dirinya sendiri”.
Menurutnya pemimpin perguruan tinggi perlu memahami aturan sekaligus mencari ruang untuk menghadirkan cara kerja yang lebih relevan, termasuk membangun kolaborasi dengan memanfaatkan kepakaran dan sumber daya yang dimiliki masing-masing institusi. Selain itu, menurut Rektor UNIPA bahwa rangkaian AKPT Angkatan ITahap II merupakan ruang untuk memperkuat pemahaman mengenai tantangan yang dihadapi perguruan tinggi Indonesia, mulai dari perubahan lingkungan global, perkembangan teknologi,kompetisi talenta, tuntutan terhadap kualitas riset dan inovasi, hingga meningkatnya ekspektasi masyarakat. Karena itu, proses pembelajaran antar pimpinan perguruan tinggi perlu terus dikembangkan agar peserta dapat membawa perspektif baru ke institusinya masing-masing.