Universitas Papua (selanjutnya disebut UNIPA) didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 153 tahun 2000, tanggal 3 November 2000. UNIPA merupakan pengembangan dari Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih. UNIPA diresmikan pada hari Sabtu, tanggal 28 Juli 2001 oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi atas nama Menteri Pendidikan Nasional. Perkembangan UNIPA melalui tiga periode, yaitu periode FPPK UNCEN (1964-1982), periode FAPERTA UNCEN (1982-2000), dan periode UNIPA (2000-sekarang).
Kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang diimplementasikan di Universitas Papua merupakan bentuk pelaksanaan dari Rencana Induk Penelitian dan Rencana Induk Pengabdian kepada Masyarakat.
Kehidupan di dalam dan di sekitar kampus membawa pengalaman baru yang berbeda bagi setiap mahasiswa. Dengan lokasi kampus yang berada di 4 kabupaten yang berbeda, mahasiswa akan terbawa untuk mengembangkan wawasan yang ke depannya akan bermanfaat bagi Papua.
Membangun Universitas Kelas Dunia: From Managing Universities to Leading Transformation”
Oleh:
Tangerang Selatan, UNIPA News (8/9/26). Rektor Universitas Papua, Prof. Dr. Hugo Warami,M.Hum., sebagai Peserta Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi Indonesia(AKPTI) Tahap I hadir mengikuti secara langsung materi Direktur Jenderal PendidikanTinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek, Khairul Munadi sebagau salah satu keynotespeaker dalam rangkaian hari kedua kepemimpinan yang bertujuan mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat kepemimpinan, dan tata kelola guna membanguntransformasi institusional.
Pada sesi tersebut, Dirjen Dikti menyampaikan materi bertajuk “Membangun Universitas Kelas Dunia: From Managing Universities to Leading Transformation”. Peserta diajak untuk tidak hanya berfokus pada pengelolaan perguruan tinggi, tetapi juga memperkuat kepemimpinan untuk mendorong transformasi institusi. Pengelolaan universitas yang baik dinilai belum tentu menghasilkan transformasi tanpa kepemimpinan yang mampu membaca perubahan,menentukan arah, dan mengambil keputusan strategis.
“Transformasi membutuhkan leadership, kepemimpinan yang kuat,”ujar Dirjen Khairul Munadi. Dirjen Dikti juga menekankan pentingnya memperkuat tata kelola perguruan tinggi agar pengambilan keputusan tidak bergantung pada satu figur pimpinan. Perguruan tinggi perlu membangun tata kelola yang lebih kuat dan berorientasi pada institusi sehingga mampu menghasilkan keputusan yang tepat, pelaksanaan yang lebih cepat, serta pembagian tanggung jawab yang jelas. Selain tata kelola, perguruan tinggi juga perlu mengembangkan manajemen talenta dengan mengidentifikasi dan menyiapkan individu yang memiliki potensi menjadi peneliti, pemimpin, maupun penggerak pengembangan institusi.
Internasionalisasi yang berorientasi pada dampak juga dipandang penting. Menurut Dirjen Dikti,keberhasilan kerja sama internasional perlu diukur dari manfaat yang dihasilkan bagi pengembangan institusi. Perguruan tinggi perlu membangun konektivitas dengan jejaring pengetahuan global dan memastikan kerja sama internasional memberikan dampak yang nyata.
AKPT dihadirkan sebagai upaya memperkuat pengembangan, dan regenerasi kepemimpinan perguruan tinggi diIndonesia. Kegiatan ini dirancang sebagai forum sinergi antara pimpinan perguruan tinggi saat ini dengan calon-calon pemimpin potensial dalam sebuah proses pengembangan kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan nyata di institusi.Tidak hanya menekankan penguatan kapasitas individu, AKPT juga mendorong kolaborasi, pertukaran pengalaman, penguatan jejaring, dan transformasi perguruan tinggi.
“Harapannya, selain darimateri yang disampaikan narasumber, para peserta juga bisa terinspirasi daripraktik baik setiap kampus. Dalam jangka panjangnya, kami harap mereka saling berkolaborasi, berkembang, dan mengembangkan ekosistem pendidikan tinggi bersama-sama,”pungkas Dirjen Khairul Munadi. Melalui rangkaian AKPT Tahap 1 Tahun 2026,Kemdiktisaintek terus berkomitmen memperkuat ekosistem pendidikan tinggi yangtangguh dan berkelanjutan, sehingga dapat memberikan dampak positif bagimasyarakat dan mendukung pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Pada kesempatan tersebut, Dirjen Khairul Munadi memberi kesempatan kepada Rektor UNIPA sebagai salah satu peserta yang ditunjuk untuk dapatmen jelaskan Kasus Tata Kelola PT “A” yang dijadikan bahasan dalam kegiatan Pendidikan kepemimpinan tersebut.