UNIPA HARI INI

Ikuti perkembangan di Universitas Papua di sini
August 12, 2026

Pesan Inspiratif Perwakilan Wisudawan UNIPA: "Papua Butuh Manusia Berkarakter, Buktikan Ilmu untuk Kemanusiaan"

MANOKWARI – Momen haru dan penuh kebanggaan mewarnai Rapat Terbuka Senat Universitas Papua (UNIPA) dalam rangka Wisuda Periode III Tahun Akademik 2025/2026, Rabu (12/8/2026). Di hadapan ratusan wisudawan, pimpinan daerah, senat, dan para orang tua, Daniel Alexander Arwam, S.T., lulusan dari Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, menyampaikan pidato perpisahan yang menggugah nurani.

Dalam pidatonya mewakili 641 wisudawan, Daniel mengingatkan bahwa toga dan gelar sarjana bukanlah sebuah garis akhir, melainkan titik awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar kepada masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan. Ia menekankan bahwa keberhasilan hari ini bukanlah sebuah kemenangan individu.

"Keberhasilan hari ini tidak pernah berdiri di atas usaha pribadi semata. Ada doa seorang ibu yang tidak pernah berhenti, ada kerja keras seorang ayah yang rela mengorbankan kenyamanan, ada dosen yang dengan sabar membimbing, dan ada sahabat yang saling menguatkan. Hari ini adalah kemenangan seluruh orang yang percaya bahwa pendidikan mampu mengubah kehidupan," tutur Daniel yang disambut haru oleh para hadirin.

Menghidupi Filosofi 'Ilmu untuk Kemanusiaan'

Daniel secara khusus menyoroti filosofi luhur Universitas Papua, yakni 'Ilmu untuk Kemanusiaan'. Menurutnya, filosofi ini adalah pengingat keras bahwa pengetahuan tidak boleh hanya berhenti di ruang-ruang kuliah dan laboratorium.

"Ilmu akan menemukan makna sejatinya ketika mampu menjawab persoalan masyarakat, menghadirkan keadilan, menjaga kelestarian alam, dan membuka kesempatan bagi generasi mendatang. Di era teknologi yang berkembang pesat ini, kecerdasan tanpa kepedulian akan kehilangan arah, dan pengetahuan tanpa integritas akan kehilangan makna," tegasnya.

Ia mengajak rekan-rekan sejawatnya untuk tidak hanya membawa ilmu di dalam pikiran, tetapi juga di dalam hati sebagai sarana untuk melayani masyarakat.

Mengutip Pesan Bersejarah I.S. Kijne

Untuk membakar semangat pengabdian para lulusan di tanah Papua, Daniel mengutip sebuah pesan bersejarah yang diucapkan oleh tokoh pendidikan dan pekabar Injil, Pdt. I.S. Kijne, pada tahun 1925 di Aitumeri, Wondama: "Barang siapa yang bekerja di tanah ini dengan setia, jujur, dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari satu tanda heran ke tanda heran lainnya."

Menurut Daniel, kutipan tersebut bukan sekadar catatan sejarah, melainkan panggilan moral bagi generasi muda. Setia berarti tetap mengabdi meski banyak tantangan, jujur berarti menjaga integritas di saat tidak ada yang melihat, dan dengar-dengaran bermakna memiliki kerendahan hati untuk terus belajar dan menaati nilai-nilai kebenaran.

"Hari ini, dunia dan tanah Papua tidak hanya membutuhkan manusia-manusia yang pintar, tetapi manusia yang memiliki karakter. Jadilah dokter yang melayani dengan kasih, jadilah guru yang mendidik dengan ketulusan, jadilah insinyur yang membangun dengan hati, jadilah ekonom yang memperjuangkan keadilan. Apapun profesi kita nantinya, jadilah manusia yang tidak pernah kehilangan hati nurani," pesannya.

Menutup pidatonya, Daniel menyapa hadirin menggunakan ragam bahasa daerah dari Pegunungan Arfak, pesisir, hingga dataran tinggi Papua, sebagai simbol penghormatan terhadap keberagaman dan nilai luhur persaudaraan di tanah Papua.

"Mari kita buktikan bahwa lulusan Universitas Papua adalah insan yang unggul dalam ilmu, kokoh dalam karakter, rendah hati dalam pelayanan, dan teguh dalam kemanusiaan. Selamat menjadi garam dan terang bagi tanah Papua dan dunia," pungkasnya.

Lampiran Berkas