UNIPA HARI INI

Ikuti perkembangan di Universitas Papua di sini
August 12, 2026

Rektor UNIPA: Wisuda Bukan Akhir, Melainkan Awal Pengabdian dan Aksi Nyata di Tengah Masyarakat

MANOKWARI — Rektor Universitas Papua (UNIPA), Prof. Dr. Hugo Warami, S.Pd., M.Hum., menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan gerbang awal bagi para lulusan untuk mengabdikan ilmu pengetahuan dan menghadirkan aksi nyata di tengah masyarakat. Pesan tersebut disampaikan dalam Rapat Terbuka Senat Universitas Papua dalam rangka Wisuda Lulusan Program Diploma, Sarjana, Magister dan Doktor Periode III Tahun Akademik 2025/2026 yang berlangsung di Manokwari, 12 Agustus 2026.

Mengusung tema “Membangun Negeri, Menghasilkan Lulusan Adaptif, Menuju Indonesia Emas”, Rektor mengatakan bahwa penyelesaian studi merupakan rangkaian pencapaian akademik yang menandai keberhasilan mahasiswa dalam menuntaskan seluruh kewajiban akademiknya. Namun, lebih dari sekadar pencapaian akademik, wisuda memiliki makna filosofis sebagai momentum transformasi diri, pengukuhan kapasitas akademik, sekaligus persiapan untuk memasuki kehidupan sosial dengan membawa tanggung jawab yang lebih besar.

Dalam pandangan Rektor, wisuda merupakan simbol transisi kehidupan dari seorang pencari ilmu menjadi insan yang mampu memberikan solusi dan menjadi agen perubahan. Karena itu, gelar akademik yang diperoleh para lulusan bukan hanya sebuah pengakuan atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan, tetapi juga membawa amanah moral agar ilmu yang dimiliki dapat digunakan secara bertanggung jawab bagi masyarakat.

Makna tersebut tercermin dalam berbagai simbol yang hadir dalam ritual akademik. Toga berwarna hitam dimaknai sebagai gambaran misteri dan kegelapan yang telah berhasil diatasi melalui cahaya ilmu pengetahuan dan keteguhan hati. Sementara bentuk segi empat pada topi akademik atau biretta menggambarkan tuntutan bagi seorang lulusan untuk mampu berpikir rasional, terbuka, dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Begitu pula pemindahan tali kuncir dari sisi kiri ke kanan menjadi simbol perubahan dari dominasi teori selama berada di bangku kuliah menuju tindakan nyata ketika kembali ke tengah masyarakat.

Menurut Rektor, proses tersebut sejalan dengan komitmen UNIPA dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Ketiganya menjadi fondasi dalam membangun sumber daya manusia Papua yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga karakter yang kuat dan mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Dalam sambutannya, Prof. Hugo juga menekankan pentingnya nilai KASIHMU sebagai karakter yang harus melekat pada setiap lulusan UNIPA. KASIHMU merupakan nilai yang mencakup sikap kuat, beradab, sinergis, harmonis, berintegritas, mandiri, dan unggul. Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai identitas institusi, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan para lulusan ketika memasuki dunia kerja, profesi, maupun ketika kembali mengabdi kepada masyarakat.

Pada periode wisuda kali ini, UNIPA kembali melepas lulusan dari berbagai jenjang pendidikan. Dengan tambahan lulusan tersebut, jumlah alumni Universitas Papua hingga saat ini telah mencapai 16.445 orang. Bagi UNIPA, ribuan alumni tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan bagian dari perjalanan panjang perguruan tinggi di Tanah Papua dalam menghasilkan sumber daya manusia yang dapat berkontribusi bagi pembangunan daerah, Indonesia, bahkan dalam ruang pengabdian yang lebih luas.

Di tengah perjalanan tersebut, UNIPA terus melakukan pembenahan dan penguatan kelembagaan. Rektor menyampaikan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus terus dilakukan, salah satunya melalui penguatan kapasitas dosen. Pada momentum wisuda tersebut, UNIPA mengukuhkan Prof. Dr. Rima H.S. Siburian, S.Hut., M.Si. sebagai guru besar pada Fakultas Kehutanan. Selain itu, terdapat tiga calon guru besar yang sedang dalam proses, terdiri atas dua dari Fakultas Kehutanan dan satu dari Fakultas Peternakan.

Penguatan kualitas akademik juga berjalan melalui peningkatan status akreditasi program studi. Pada awal 2026, Program Studi Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya UNIPA memperoleh akreditasi unggul. Dengan capaian tersebut, UNIPA kini memiliki tiga program studi unggul, sementara 24 calon program studi unggul terus didorong sebagai bagian dari upaya meningkatkan status akreditasi institusi dari predikat Baik Sekali menuju Unggul.

UNIPA juga terus menyesuaikan pengembangan program akademiknya dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan. Pada tahun 2026, UNIPA menambah Program Studi S1 Akuakultur pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Program Studi S2 Magister Perencanaan Wilayah pada Program Pascasarjana. Dua program studi lainnya, yakni S1 Pariwisata dan S2 Magister Manajemen Pendidikan, sedang dalam proses di SIAGA. Sementara itu, lima program studi baru telah memperoleh pertimbangan dan rekomendasi pembukaan dari Senat UNIPA, yaitu Magister Manajemen, S1 Arsitektur, S1 Teknik Lingkungan, S1 Sistem Informasi, serta S1 Pendidikan Jasmani Olahraga dan Rekreasi.

Perkembangan tersebut turut diikuti dengan tren positif dalam penerimaan mahasiswa baru. Jumlah mahasiswa baru yang memilih UNIPA mengalami peningkatan hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut masih terus bergerak seiring dengan pelaksanaan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), program alih jenjang, serta program tugas atau izin belajar dari pemerintah daerah yang bekerja sama dengan UNIPA.

Di bidang penelitian dan publikasi, UNIPA juga terus memperkuat perannya. Sejak kembali aktif pada 2025, UNIPA Press telah menerbitkan sejumlah karya ilmiah dari berbagai bidang keilmuan. Hingga Agustus 2026, sebanyak delapan judul buku telah diterbitkan, mencakup bidang lingkungan, perikanan, peternakan, pendidikan, hingga metodologi penelitian. Keberadaan UNIPA Press diarahkan bukan hanya sebagai unit penerbitan, tetapi sebagai jembatan antara hasil eksplorasi ilmiah sivitas akademika dengan kebutuhan masyarakat Papua dan komunitas sains global. Langkah tersebut menjadi bagian dari arah transformasi UNIPA menuju Research University 2035 sekaligus memperkuat peran kampus sebagai benteng literasi dan kebudayaan Papua.

Dalam bidang inovasi, UNIPA juga mencatat perjalanan panjang dalam menghasilkan dan melindungi karya intelektual. Sejak 2005 hingga 2026, UNIPA telah memiliki sekitar 793 sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI), 13 paten, dan 16 paten sederhana yang terdaftar pada Kementerian Hukum dan HAM RI. Capaian tersebut menunjukkan konsistensi sivitas akademika dalam menghasilkan karya dan inovasi yang memiliki nilai tambah serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Rektor menegaskan bahwa berbagai capaian tersebut tidak dapat dilepaskan dari pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan. UNIPA terus memperkuat kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan kampus dapat memberikan manfaat langsung bagi pembangunan Tanah Papua.

Menutup sambutannya, Prof. Hugo menyampaikan refleksi yang menggambarkan perjalanan UNIPA ke depan. Ia mengibaratkan UNIPA sebagai sebuah perahu besar yang sedang berlayar. Dalam perjalanan tersebut, manusia tidak selalu dapat mengendalikan arah angin, tetapi dapat menyesuaikan layar sembari terus mendayung. Filosofi tersebut menggambarkan pentingnya kemampuan UNIPA untuk beradaptasi terhadap perubahan tanpa kehilangan arah dan identitasnya.

UNIPA juga digambarkan sebagai Rumah Besar “Honai/Rum Sram”, sebuah rumah impian tempat ilmu pengetahuan bersemayam dan mengalir tanpa batas, menjadi perawat harmoni, penjaga arti keberagaman, serta penyimpan memori yang tidak lekang oleh waktu menuju perubahan yang lebih baik.

Karena itu, kepada seluruh wisudawan, Rektor berpesan agar ilmu dan gelar akademik yang telah diperoleh tidak berhenti menjadi pencapaian pribadi. Ilmu tersebut harus menjadi kekuatan untuk berkarya, mengabdi, dan memberikan solusi bagi masyarakat. Para lulusan diharapkan mampu menjadi sumber daya manusia yang adaptif, berkarakter KASIHMU, serta siap mengambil bagian dalam pembangunan Tanah Papua dan Indonesia.

Dari Tanah Papua untuk Indonesia, UNIPA terus meneguhkan perannya dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, adaptif, dan mampu menjawab tantangan masa depan menuju Indonesia Emas

Lampiran Berkas