MANOKWARI (12 Agustus 2026)— Pemerintah Provinsi Papua Barat mendorong lulusan Universitas Papua (UNIPA) untuk tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi mampu menjadi problem solver yang memberikan solusi nyata bagi berbagai persoalan pembangunan di Tanah Papua.
Pesan tersebut disampaikan Gubernur Papua Barat melalui Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Marten Kocu, SH., MA., dalam Rapat Terbuka Senat Universitas Papua dalam rangka Wisuda Periode III Tahun Akademik 2025/2026 dan Pengukuhan Guru Besar, Rabu (12/8/2026).
Dalam sambutannya, Marten menyampaikan apresiasi kepada UNIPA yang berhasil mewisuda 641 lulusan dari berbagai program studi yang tersebar di 12 fakultas dan program pascasarjana.
“Keberhasilan ini adalah wujud nyata kontribusi UNIPA dalam pembangunan fondasi peradaban dan kemajuan Tanah Papua,” ujarnya.
Menurutnya, tema wisuda “Membangun Negeri, Menghasilkan Lulusan Adaptif Menuju Indonesia Emas” sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi saat ini. Perubahan lanskap global, otomatisasi, dinamika ekonomi, serta tuntutan efisiensi telah mengubah kebutuhan dunia kerja.
Karena itu, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan capaian akademik.
“Dunia kerja saat ini tidak hanya mencari mereka yang memiliki indeks prestasi akademik tertinggi, tetapi mereka yang paling adaptif, lincah berpikir, dan mampu membaca peluang,” kata Marten.
Ia menilai kondisi geografis dan keragaman sosial budaya Papua justru membutuhkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan berbagai situasi dan keterbatasan.
Marten juga menegaskan bahwa efisiensi dan ketidakpastian global tidak boleh dipandang sebagai hambatan. Sebaliknya, kondisi tersebut harus menjadi ruang untuk membentuk mentalitas tangguh bagi generasi muda Papua.
Lulusan diminta menjadi problem solver
Kepada 641 wisudawan dan wisudawati, Pemerintah Provinsi Papua Barat memberikan pesan agar ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNIPA tidak hanya digunakan untuk mencari pekerjaan.
Lulusan didorong untuk turun langsung menyelesaikan persoalan masyarakat, mulai dari sektor pertanian, kehutanan, kelautan, kesehatan, hukum hingga tata kelola pemerintahan.
“Jadilah problem solver di Tanah Papua. Gunakan ilmu yang telah didapatkan di kampus bukan sekadar untuk mencari pekerjaan, tetapi untuk turun tangan langsung menyelesaikan berbagai tantangan nyata di tengah masyarakat Papua Barat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan para lulusan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat atau lifelong learner.
Menurutnya, ijazah yang diterima saat wisuda merupakan awal perjalanan, bukan akhir proses belajar. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat menuntut setiap lulusan untuk terus memperbarui kemampuan dan meninggalkan kebiasaan lama yang tidak lagi relevan.
Teknologi tidak menggantikan nilai kemanusiaan
Di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan efisiensi, Marten menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Ia menyebut empati, akar budaya lokal, kerja sama tim, dan kepemimpinan yang merangkul sebagai modal penting yang harus tetap dimiliki generasi muda Papua.
“Teknologi dapat menggantikan banyak hal. Namun, empati, akar budaya lokal, kerja sama tim, dan kepemimpinan yang merangkul tidak akan pernah bisa tergantikan,” katanya.
Karena itu, ia meminta lulusan UNIPA untuk tetap menjunjung tinggi etika, kearifan lokal, serta semangat kolaborasi dalam menjalankan profesi masing-masing.
Dorong UNIPA menuju akreditasi unggul
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Barat juga menyatakan dukungan terhadap upaya UNIPA meningkatkan kualitas institusi.
Marten mengatakan UNIPA saat ini sedang mempersiapkan diri menghadapi proses akreditasi dengan target memperoleh predikat unggul.
Pemerintah daerah, kata dia, meyakini bahwa perguruan tinggi yang unggul merupakan salah satu fondasi penting bagi kemajuan daerah.
“Loncatan mutu ini harus didukung bersama menuju visi besar Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembangunan Papua Barat ke depan tidak dapat hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Kunci pembangunan berada pada kualitas sumber daya manusia yang unggul, inovatif, adaptif, dan berintegritas, baik Orang Asli Papua maupun non-Orang Asli Papua.
Menjadi agen perubahan
Menutup sambutannya, Marten meminta para lulusan UNIPA menjadikan kelulusan sebagai awal memasuki ruang pengabdian yang lebih luas.
Ia mengajak para wisudawan menjadi agen perubahan yang mampu membawa nama baik almamater sekaligus memberikan kontribusi bagi Papua Barat, Indonesia, dan masyarakat luas.
“Selamat jalan menuju gerbang pengabdian yang sesungguhnya di Tanah Papua dan Nusantara. Jadilah agen perubahan yang membanggakan daerah, bangsa, dan negara,” tuturnya.
Ia juga mengajak seluruh civitas akademika dan alumni UNIPA untuk terus mendukung perjalanan universitas menuju akreditasi unggul serta membuktikan bahwa lulusan UNIPA dapat menjadi salah satu motor penggerak kemajuan Papua Barat menuju Indonesia Emas 2045.